Franchise Fore Coffee: Rincian Modal Awal, Syarat Kemitraan & Keuntungan Jangka Panjang
Banyak yang penasaran dengan peluang bisnis di balik merek kopi yang satu ini. Namanya sudah besar, gerainya di mana-mana, dan konsumennya loyal. Tapi sebelum bicara soal Franchise Fore Coffee, ada satu hal penting yang perlu diluruskan: model bisnis yang ditawarkan Fore Coffee ternyata beda dari waralaba biasa.
Merek yang sudah punya lebih dari 300 gerai di 50 kota ini memilih jalur unik. Mereka tidak membuka skema waralaba konvensional seperti kebanyakan franchise kopi lain . Yang mereka tawarkan adalah skema kemitraan Rental Revenue Sharing. Ini adalah kabar baik sekaligus tantangan. Kabar baiknya, kamu bisa ikut serta dalam pertumbuhan bisnis mereka. Tantangannya, skema ini punya aturan main dan modal yang tidak main-main.
Daripada bingung sendiri, lebih baik kita bedah tuntas. Mulai dari rincian modal yang bikin geleng-geleng kepala, syarat yang wajib dipenuhi, sampai potensi cuan jangka panjangnya. Kita bahas semuanya, termasuk yang sering bikin calon mitra gagal di tengah jalan.
Baca Juga: Franchise Teman Nongkrong: Konsep Usaha & Estimasi Modal

Kenali Dulu Model Kemitraan Fore Coffee, Bukan Waralaba Biasa
Sebelom bahas angka, pahami dulu modelnya. Fore Coffee sejak awal didirikan pada 2018 memang fokus pada pertumbuhan terintegrasi . Mereka lebih memilih mengelola sendiri operasional demi menjaga kualitas dan konsistensi rasa di setiap gerai. Tapi, mereka membuka pintu untuk investor lewat model Rental Revenue Sharing .
Apa bedanya dengan franchise kopi fore kebanyakan? Dalam model ini, kamu sebagai investor lebih berperan sebagai penyedia fasilitas dan aset. Kamu menanggung biaya pembukaan gerai, mulai dari sewa tempat, renovasi, sampai peralatan. Sementara itu, tim Fore Coffee yang mengurus operasional harian, mulai dari rekrutmen barista, pengelolaan stok, sampai strategi pemasaran .
Kamu hanya fokus menyediakan lokasi dan investasi awal. Hasilnya, kamu mendapatkan bagi hasil dari pendapatan bersih setiap bulannya . Ini jelas beda dengan waralaba konvensional di mana kamu harus capek-capek urus operasional sendiri dan bayar royalti rutin. Di sini, kamu bisa duduk manis sambil pantau laporan keuangan dari pusat.
Berapa Franchise Fore? Ini Detail Biaya yang Perlu Disiapkan
Balik lagi ke pertanyaan paling krusial: berapa sih modal yang harus digelontorkan? Jawabannya bervariasi, tergantung skala dan lokasi gerai yang kamu pilih. Data dari berbagai sumber menyebutkan angka yang cukup lebar, tapi yang paling sering dirujuk untuk model Rental Revenue Sharing adalah mulai dari Rp1,2 miliar .
Angka ini mencakup biaya pembangunan fasilitas, peralatan kopi, dan kebutuhan operasional awal lainnya . Beberapa sumber menyebutkan estimasi biaya bisa mencapai Rp2,5 miliar tergantung ukuran outlet . Untuk gambaran lebih detail, berikut rincian paket yang sempat beredar di publik:
- Paket Skala Kecil: Mulai dari sekitar Rp200 juta – Rp300 juta .
- Paket Skala Menengah: Berkisar di angka Rp500 juta .
- Paket Skala Besar: Antara Rp700 juta hingga Rp800 juta .
- Model Rental Revenue Sharing: Dimulai dari Rp1,2 miliar .
Ingat, biaya di atas adalah estimasi awal di luar biaya lain seperti survey lokasi, pelatihan, dan promosi awal. Selain itu, skema ini juga menerapkan klausul non-kompetisi. Selama masa kontrak, kamu tidak boleh terlibat dalam bisnis sejenis yang bisa jadi pesaing.

Ini yang Sering Bikin Calon Mitra Gagal di Tahap Ini
Modal sudah siap, tapi belum tentu kamu langsung di-ACC. Fore Coffee terkenal selektif dalam memilih mitra. Bukan cuma soal uang, tapi juga soal lokasi dan profil calon mitra.
Lokasi adalah segalanya. Mereka lebih memilih lokasi strategis di area dengan lalu lintas tinggi, seperti perkantoran, pusat perbelanjaan, atau kawasan pendidikan . Tim Franchise Fore Coffee akan melakukan survei ketat untuk memastikan lokasi yang kamu ajukan punya potensi pasar yang besar. Jadi, punya lokasi bagus adalah tiket masuk yang sangat penting.
Baca Juga: Franchise Haidilao Hot Pot: Peluang Bisnis, Cara Membuka & Keuntungan
Selain lokasi, profil calon mitra juga dinilai. Meskipun operasional dikelola oleh tim pusat, kamu sebagai mitra tetap harus punya kapasitas dan komitmen jangka panjang. Kontrak kerja sama biasanya berdurasi 5 tahun, dan kamu harus siap dengan komitmen itu . Jangan sampai di tengah jalan malah menyerah karena bosan atau kehabisan modal untuk biaya tak terduga.
Brand Fore Milik Siapa? Kenali Pengendalinya
Mungkin kamu penasaran, siapa sebenarnya di balik merek sekelas Fore Coffee? Ini penting buat mengukur seberapa serius mereka menjalankan bisnis. Fore Coffee didirikan pada 2018 oleh tiga tokoh: Robin Boe, Jhoni Kusno, dan Vico Lomar .
Robin Boe dan Jhoni Kusno sebelumnya dikenal lewat Otten Coffee, platform e-commerce peralatan kopi. Mereka berkolaborasi dengan East Ventures, modal ventura ternama milik Willson Cuaca . Nama Vico Lomar, yang kini menjabat sebagai CEO, masuk pada 2020 dan membawa transformasi besar dengan ekspansi agresif .
Perusahaan induknya, PT Fore Kopi Indonesia Tbk, bahkan sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada April 2025 dengan kode saham FORE . Ini menunjukkan bahwa mereka adalah entitas bisnis yang kredibel dan terukur. IPO mereka berhasil mengumpulkan lebih dari Rp353 miliar untuk ekspansi gerai .
Potensi Keuntungan Jangka Panjang: Ngikutin Arus Pertumbuhan
Nah, ini yang paling ditunggu. Kalau modalnya besar, apa iya keuntungannya sepadan? Melihat kinerja keuangan Fore Coffee belakangan ini, jawabannya cukup menggoda.
Hingga kuartal III 2025, Fore Coffee mencatatkan laba periode berjalan sebesar Rp60,10 miliar, tumbuh 41,93% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya . Penjualan bersih mereka juga melonjak 43% menjadi Rp1,04 triliun . Ini pertumbuhan yang luar biasa di tengah industri kopi yang semakin padat.
Dengan ekspansi yang terus berlanjut, mereka menargetkan membuka hingga 140 gerai baru dari hasil IPO . Artinya, potensi pasar terus bertambah. Jika kamu bergabung sekarang, kamu bisa ikut menikmati pertumbuhan itu. Dengan skema bagi hasil, pendapatanmu akan tergantung pada kinerja gerai.
Berapa Omset Fore? Data Realistis dari Kinerja Perusahaan
Pertanyaan “berapa omset fore” sebenarnya lebih tepat dijawab lewat data penjualan mereka secara korporasi. Data Q3 2025 menunjukkan penjualan bersih mencapai Rp1,04 triliun untuk periode sembilan bulan . Itu rata-rata lebih dari Rp115 miliar per bulan dari total 291 gerai yang beroperasi di Indonesia saat itu .
Tentu, omset per gerai akan sangat berbeda tergantung lokasi. Gerai di Jakarta pusat pasti punya omzet yang berbeda dengan gerai di kota satelit. Namun, rata-rata penjualan bruto dari segmen minuman saja mencapai Rp1,08 triliun (sebelum diskon) . Angka ini menunjukkan bahwa produk utama mereka, kopi, punya permintaan yang sangat tinggi.
Sebagai mitra dengan skema bagi hasil, keuntunganmu adalah bagian dari pendapatan bersih setelah dikurangi biaya operasional. Semakin besar penjualan, semakin besar porsi yang bisa kamu terima. Ini insentif yang jelas bagi kamu untuk memastikan lokasi yang kamu sediakan benar-benar strategis.
Berapa Franchise Fore Skala Kecil? Opsi dengan Modal Terbatas
Buat yang merasa modal di atas Rp1 miliar terlalu berat, ada kabar baik. Ternyata, selain model Rental Revenue Sharing, ada opsi kemitraan dengan skala lebih kecil yang disebut-sebut memiliki biaya mulai dari Rp200 juta . Paket skala kecil ini biasanya untuk gerai yang lebih sederhana atau mungkin di luar pusat kota.
Namun, perlu dicatat bahwa paket skala kecil ini tetap termasuk dalam skema kemitraan, bukan waralaba penuh. Artinya, meski investasi lebih kecil, tetap ada batasan dan standar operasional yang harus diikuti. Biaya tambahan untuk survei lokasi dan pelatihan awal tetap akan muncul.
Pilihan ini bisa jadi pintu masuk untuk pemula yang ingin mencoba bisnis kopi dengan dukungan brand besar. Tapi tetap waspadai biaya tersembunyi seperti turnover SDM yang mungkin membutuhkan re-training dari pusat, serta biaya promosi awal untuk menarik pelanggan. Hitung semua komponen itu sebelum memutuskan ambil paket skala kecil.

Modal Sudah Siap, Tapi Lokasi Belum Ketemu?
Kalau kamu sudah siap secara finansial, tantangan berikutnya adalah lokasi. Seperti disebutkan sebelumnya, Fore Coffee sangat selektif di sini. Mereka tidak akan menyetujui kemitraan kalau lokasi yang kamu tawarkan tidak memenuhi kriteria.
Ciri-ciri lokasi potensial biasanya adalah area dengan lalu lintas pejalan kaki atau kendaraan yang tinggi. Bisa di ruko-ruko strategis dekat kampus, perkantoran padat, atau mal yang ramai pengunjung. Jangan asal pilih tempat murah di area sepi karena target pasar Fore Coffee adalah pekerja urban dan anak muda.
Baca Juga: Franchise Subway: Profit BEP, Syarat Bergabung & Peluang
Kesalahan memilih lokasi di awal sering jadi biang kerok kegagalan bisnis franchise kopi. Bayangkan, kamu sudah investasi puluhan bahkan ratusan juta untuk peralatan dan renovasi, tapi pengunjung sepi karena lokasi kurang strategis. Makanya, Fore Coffee menerapkan aturan ketat soal lokasi untuk melindungi brand dan mitra itu sendiri.
Proposal Franchise Fore: Cara Mengajukan Kemitraan
Proses pengajuannya pun tidak bisa asal. Kamu harus mengirimkan proposal yang jelas. Fore Coffee biasanya membuka jalur komunikasi resmi untuk kemitraan. Berdasarkan situs resmi mereka, untuk pertanyaan kemitraan bisa menghubungi via email ke [email protected] .
Saat mengajukan, siapkan data-data detail tentang calon lokasi, analisis pasar sederhana, dan profil diri atau perusahaan kamu. Tim Fore Coffee akan melakukan evaluasi menyeluruh. Jangan kaget kalau mereka mengajukan banyak pertanyaan menggali komitmen dan visi kamu sebagai mitra.
Setelah melalui tahap evaluasi dan survei lokasi, barulah dilakukan negosiasi kontrak. Karena durasi kontrak biasanya 5 tahun, pastikan kamu membaca semua klausul dengan cermat . Perhatikan kewajibanmu sebagai mitra dan hak-hakmu, terutama dalam hal pembagian keuntungan.
Keterangan Penting seputar Biaya dan Lisensi
Di balik semua keuntungan, ada beberapa poin kelam yang sering dianggap remeh. Pertama, biaya tambahan bisa muncul kapan saja. Misalnya, untuk re-training staf karena ada turnover SDM, biaya promosi berkala, atau biaya audit Quality Control (QC) dari pusat. Ini adalah biaya operasional yang harus dianggarkan.
Kedua, bicara soal lisensi. Dalam model Rental Revenue Sharing, meskipun kamu menyediakan aset, nama brand tetap milik Fore Coffee. Saat masa lisensi penggunaan nama brand habis, biasanya tiap 5 tahun, ada kemungkinan kamu harus memperbarui perjanjian. Poin di brief khusus menyebutkan ada potensi biaya untuk pembaruan ini. Pastikan ini masuk dalam perhitungan jangka panjangmu.
Model kemitraan seperti ini memang menarik karena terlihat passive income. Namun, kamu tetap harus proaktif dalam memonitor laporan keuangan dan operasional gerai. Jangan berharap uang mengalir deras tanpa pengawasan. Pastikan hakmu sebagai mitra investor selalu terpenuhi.

Gunakan Referensi Kredibel dari FranchiseIndo.co.id
Riset adalah kunci sebelum memutuskan mengucurkan dana besar. Jangan hanya bermodal nekat atau ikut-ikutan. FranchiseIndo.co.id menjadi salah satu referensi bisnis yang bisa kamu andalkan.
Baca Juga: Franchise XTO Car Care: Usaha Cuci Mobil & Prospek
Situs ini berfokus menyediakan informasi lengkap tentang peluang franchise, termasuk pembahasan mendalam soal kemitraan Fore Coffee. Kamu bisa mendapatkan gambaran komparatif tentang besaran investasi, skema kerja sama, hingga tips negosiasi kontrak. Mengumpulkan informasi dari portal seperti ini sangat penting agar kamu tidak salah langkah.
Dengan data yang valid, kamu bisa menyusun strategi bisnis yang lebih matang. Kamu akan tahu kapan waktu yang tepat untuk menawar atau bahkan kapan harus mundur dari sebuah kesepakatan. Karena investasi sebesar ini bukan main-main, pendekatan analitis jelas lebih aman daripada pendekatan emosional.
Jika tertarik untuk menjajaki peluang kemitraan, bacalah lebih dalam ulasan tentang Franchise Coffee. Dapatkan panduan lengkap sebelum kamu bertemu tim Fore Coffee.